....
Gadis itu sedang beristirahat di depan sebuah pertokoan tak jauh dari terminal. Dia mengenali wajah beberapa orang yang terlihat hilir mudik di pertokoan itu. Bukan karena mereka benar-benar kenalannya, tapi karena ia terlalu sering duduk di depan pertokoan, dan mereka terlalu sering berbelanja.
Seperti wanita cantik yang selalu kelihatan modis itu. Dia membawa banyak tas belanjaan di kedua tangannya. Seperti biasa pula, dia akan duduk di kafe sebelah pertokoan untuk menunggu sang supir datang dengan mobil sedannya. Lalu, hal yang tak biasa terjadi. Dia memanggil si gadis pengamen yang sudah sejak tadi, tidak, tepatnya sejak berminggu-minggu lalu, selalu menatap sinis padanya dari kejauhan.
Gadis itu mengambil tempat duduk di hadapan si wanita cantik. Tanpa berbasa-basi, wanita itu berkata,
“Berhenti memandang orang seperti itu…” Wanita itu meletakkan segelas moccachino yang baru diteguknya.
“Memandang seperti apa?” Gadis itu keheranan.
“Pandangan itu. Skeptis. Sinis. Kamu harus lebih sering berbicara dengan orang lain…”
“Maaf Tante, ini tentang apa ya?” Gadis itu masih tak mengerti.
Seolah tak perduli, wanita itu terus melanjutkan perkataannya.
“Buka pandanganmu lebih luas. Kamu akan menemukan dan kemudian paham, bahwa dunia ini, tak cuma dipenuhi orang-orang jahat. Tak semua orang tak peduli. Mungkin, jenis orang-orang yang tak kau sukai itu memang bertebaran di muka bumi ini, tapi kamu tahu? Orang sepertimu juga tak sedikit. Orang yang sibuk mempertanyakan banyak hal, sibuk membenci semua orang…”
Ditatapnya wanita yang sejak tadi dia rasakan tengah menegur dirinya. Dia telah mengerti apa yang dimaksud wanita itu. Meski terdengar sok tahu, tapi entah bagaimana, wanita itu seolah bisa mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan dirinya.
“Aku beritahu padamu. Yang sebenarnya Kamu benci bukan mereka, tetapi nasib dan ketidakberdayaanmu sendiri. Nikmati saja hidup, tak peduli betapa tak beruntungnya dirimu, tak peduli bila tak ada yang mau memperhatikanmu…”
Supir sudah datang dengan mobil sedan silver-hitamnya. Tanpa menunggu perintah, dimasukkannya tas-tas belanjaan itu ke dalam mobil. Sang majikan memintanya menunggu di dalam mobil.
“Seharusnya Tante juga yang paling mengerti bahwa semua itu tidak mudah. Praktik selalu lebih sulit daripada teori bukan? Tante butuh berapa lama untuk menyadari semua?” Kali ini, si gadis berbalik seperti memahami wanita itu, yang sejenak, memperlihatkan raut wajah terkejut.
Wanita itu tidak menggubris pertanyaan terakhirnya.
“Memang sulit, tapi bukan tidak mungkin. Membayangkan dirimu akan kehilangan banyak momen indah dalam hidup, mungkin akan membantumu kembali berpikir”
“Aku tidak punya apa-apa, apa yang bisa hilang?”
Wanita itu menghela napas.
“Kalau kamu terus begitu, mungkin kemanusiaanmu yang akan hilang. Bila Kamu begitu membenci sesuatu, hanya ada dua kemungkinan. Kelak Kamu benar-benar menghindari sesuatu itu, atau sebaliknya Kamu menjadi bagian dari sesuatu itu.
Kamu masih muda. Ubah stereotyping mu terhadap orang-orang, karena pikiranmu itulah yang akan terus membuatmu tersakiti.”
Wanita itu bangkit dari duduknya. Dia membuka tas dan mengambil sebuah amplop berisi sejumlah uang yang telah dipersiapkannya untuk diberikan ke sebuah yayasan.
“Ini untukmu. Lanjutkan sekolah.”
Si wanita baru akan beranjak pergi, ketika gadis itu berkata sesuatu yang mengejutkannya.
“Ada kemungkinan ketiga bukan? Menghindari sesuatu itu, dengan menjadi bagian darinya. Tante memilih itu…”
“Hidup hanya hitam putih. Manusia memilih abu-abu. Sudah biasa kan?” Kata wanita itu tanpa memalingkan wajah pada si gadis. Dia tersenyum dan berjalan menuju mobilnya.
“Ke yayasan, Nyonya?” Tanya si supir.
“Nggak. Kita ke ATM dulu…”
Gadis itu masih memegang amplop.
Tujuh juta rupiah.
Dia masih terpana, memandangi mobil si wanita yang sudah tak tampak lagi di depan mata. Uang itu serta merta membuat pikirannya penuh dengan berbagai rencana. Semua masih samar. Hanya sebuah rencana yang tergambar jelas di pikirannya. Dia akan membangun kembali fondasi bentengnya, kali ini tanpa material benci dan dendam. Dia tahu, pembangunan itu akan menghabiskan banyak malam…
Well I've quoted only a part of it though, just the wonderful part of it ^^
a
No comments:
Post a Comment